Jakarta (21/9). Dalam peringatan hari World Cleanup Day 2021 DPP LDII menyelenggarakan kampanye pilah sampah dari rumah. Ketua Umum DPP LDII KH Chriswanto Santoso menyitir data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) di tahun 2020, 54 persen dari total sampah plastik terbuang di lingkungan. WCD 2021 menjadi momentum LDII mengedukasi warganya untuk menangani permasalahan sampah.

Ketua WCD Indonesia 2021, Agustina Iskandar mengapresiasi aksi pilah sampah dari rumah yang digalakan oleh LDII. Selain dalam peringatan WCD, LDII terus konsen dalam mengurangi limbah sampah, pasalnya setiap kurban LDII memanfaatkan besek sebagai wadah.

Saat ini, gerakan cleanup di lingkungan pondok pesantren, dan di berbagai daerah dilakukan secara serentak. “Tentunya dengan momentum bersama ini, Indonesia bukan tidak mungkin bersih dari sampah pada 2025 nanti. Kami bangga LDII bisa mengajak aksi ini dari level daerah hingga tingkat kecamatan,” ujar Agustina.

Senada dengan itu, Ketua Lembaga Pemulihan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Majelis Ulama Indonesia (LPLH SDA MUI), Hayu S. Prabowo mengapresiasi DPP LDII, sebagai ormas Islam yang peduli dengan persoalan lingkungan hidup.

Menurutnya, LDII tidak hanya perhatian terhadap permasalahan sampah, namun LDII selalu berkomitmen dan konsisten dalam menangani persoalan sampah.

“Karena yang diurus oleh pegiat lingkungan hidup umumnya yang kotor-kotor, bau-bau. Selain itu kita perlu menyiapkan tenaga dan biaya. Seperti halnya kita membersihkan lingkungan kita sendiri, jadi tidak ada yang bayar. Itu umumnya yang terjadi di organisasi kita apabila kita masuk dalam kegiatan atau program lingkungan hidup,” kata Hayu Prabowo, saat acara “Gerakan World Cleanup Day Indonesia (WCDI) 2021 Bersama Warga LDII”, pada Minggu (19/9).

Hayu Prabowo menyayangkan perilaku masyarakat yang membuang sampah sembarangan seperti selokan, sungai maupun laut. Menurutnya, perilaku membuang sampah sembarangan merupakan dosa yang perlu pertanggungjawaban.

“Padahal ada hadist Rasulullah SAW yang menyatakan: ‘Takutlah pada tiga tempat yang dilaknat. Membuang kotoran pada sumber air yang mengalir, di jalan dan di tempat berteduh. Kita lihat bagaimana sampah-sampah kita di sungai. Itu adalah dosa yang nanti bisa dipertanggungjawabkan,” ujarnya.

Selain itu, LPLH MUI juga memberi perhatian pada sampah plastik yang dibuang sembarangan di laut, selain sulit terdregadasi, tumpukan sampah di laut juga dapat berdampak pada kesehatan. Tumpukan sampah di laut, di dominasi oleh produk-produk rumah tangga seperti deterjen, pencuci muka, pasta gigi dan lainnya yang mengalir melalui sungai.

“Isi material (produk rumah tangga) tersebut terdapat mikroplastik. Kita nyuci, gosok gigi, cuci muka, kita buang ke got, dari got ke kali, dari kali ke sungai, dari sungai ke laut,” ujarnya.

Material plastik akan berubah menjadi partikel kecil setelah proses degradasi di laut, seperti yang diketahui, laut mengandung garam yang dapat dikonsumsi oleh manusia. Oleh karena itu, sampah plastik juga dapat berdampak pada kesehatan bagi masyarakat.

“Mikro plastik kalau termakan bukan hanya masuk ke lambung saja, untuk nano plastik bisa sampai masuk pembuluh darah. Inilah yang menjadi perhatian kita semua. Karena begitu mikro dan nano plastik masuk ke laut, garam kita kan asalnya dari laut. Sekarang itu 90 persen garam dapur sudah tercemar plastik. Ini suatu hal yang sangat menakutkan,” ungkapnya.

Pagelaran “Gerakan World Cleanup Day Indonesia (WCDI) 2021 Bersama Warga LDII”, juga menghadirkan Direktur Pengelolaan Sampah, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Novrizal Tahar IPM, ia juga mengapresiasi langkah LDII menggerakkan warganya memilah sampah dari rumah.

Novrizal mengungkapkan aksi memilah sampah dari rumah yang diinisiasi oleh LDII merupakan respon positif dalam mengedukasi masyarakat untuk peduli terhadap lingkungan. LDII sebagai organisasi structural yang mempunyai jaringan besar dari pusat hingga ke desa atau kelurahan tentu memiliki potensi besar dalam mendorong perubahan dan perilaku publik.

“Apa yang telah dilakukan oleh LDII dalam konteks WCDI telah menjadi bagian dari komponen bangsa Indonesia yang ikut mencerahkan, membangun peradaban baru dan membangun perilaku berwawasan lingkungan dalam pengelolaan sampah di Indonesia,” jelas Novrizal.

Persoalan Sampah Ada di Hulu

WhatsApp Image 2021-09-21 at 07.28.44.jpeg
Ketua Umum DPP LDII KH Chriswanto Santoso (Foto: LINES)

Saat membuka “Gerakan World Cleanup Day Indonesia (WCDI) 2021 Bersama Warga LDII”, Ketua Umum DPP LDII KH Chriswanto Santoso menyampaikan keprihatinannya. Permasalahan sampah tidak hanya menjadi perhatian pemerintah, LDII sebagai ormas juga terpanggil untuk menyelesaikan masalah sampah.

“Memelihara lingkungan, memelihara kebersihan, tidak merusak bumi, memberikan manfaat untuk sesama itu semua merupakan ajaran Islam. Kebetulan komunitas kita cukup besar, punya pondok pesantren yang besar, maka ketika melihat permasalahan sampah global ini juga menjadi permasalahan kita,” ujarnya.

KH Chriswanto Santoso mengungkapkan banyak warga LDII dan pondok pesantren binaannya mengeluhkan susahnya dalam mengelola sampah. Sejak beberapa tahun terakhir, LDII telah berupaya untuk mengelola sampah baik lingkup rumah tangga maupun pondok pesantren.

“Kita selalu berusaha untuk bagaimana mengelola sampah. Kalau bisa sampai zero waste untuk di kompleknya warga LDII,” ucapnya.

Limbah sampah tidak hanya dipilah, tetapi juga perlu pengelolaan yang benar. Selain dapat mengurangi limbah, juga dapat mendapatkan manfaat ekonomi.

“Alhamdulilah, Pondok Minhaajurrosyidin mendapat bantuan dari Bank Indonesia untuk penglolaan sampah hingga tingkat akhir. Bukan hanya zero waste tetapi juga mendatangkan manfaat ekonomi dari pengelolaan sampah itu,” katanya.

Berdasarkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) di tahun 2019, tumpukan limbah plastik mencapai 67,8 juta ton per tahun. KH Chriswanto menilai limbah tersebut dapat dipilah sehingga limbah itu dapat di recycling.

“Saya sangat setuju, World Cleanup Day gerakannya dimulai dari rumah tangga, karena itu paling hulu pengelolaan sampah. Budaya ini tidak gampang, perlu edukasi yang terus menerus sehingga menjadi sebuah budaya baik” tambahnya.

WhatsApp Image 2021-09-21 at 07.32.19.jpeg
Ketua Koordinator Bidang Litbang, IPTEK, Sumber Daya Alam dan Lingkungan (LISDAL) DPP LDII, Profesor Sudarsono (Foto: LINES)

Sementara itu, Ketua Koordinator Bidang Litbang, IPTEK, Sumber Daya Alam dan Lingkungan (LISDAL) Sudarsono mengatakan masalah sampah dapat ditangani di sumbernya yaitu rumah tangga. Bila permasalahan sampah dapat tertangani dalam rumah tangga, maka tempat pengolahan sampah di tempat lain seperti TPA tidak ada lagi penumpukan.

“Kami mendorong warga LDII untuk menangani sampah di rumah masing-masing. Sehingga tidak terjadi penumpukan di TPA,” ujarnya.

Guru Besar Institut Pertanian Bogor itu melihat, mayoritas limbah rumah tangga itu merupakan limbah organik. Seperti yang diketahui, limbah organik dapat dijadikan kompos.

“Kalau limbah organiknya sudah tertangani di tingkat rumah tangga, kita tidak perlu membuang ke tempat sampah. Sedangkan limbah anorganik perlu dipilah, mana yang dapat di recycle dan up cycle,” tambahnya.

Permasalahan sampah organik maupun anorganik yang tertangani di lingkup rumah tangga maka tidak akan terjadi pencemaran lingkungan akibat limbah sampah.

“Kami dari Departemen LISDAL, mendorong warga LDII untuk aktif terlibat dalam pengelolaan sampah di rumahnya masing-masing,” ujarnya.

Dalam persoalan sampah, LDII merupakan Ormas yang aktif berperan dalam menangani persoalan sampah. Terbukti, LDII telah melakukan GoGreen di sejumlah daerah, memiliki kader Generasi Muda Indonesia Bela Lingkungan (Gemilang) yang fokus dengan isu lingkungan.

“Apresiasi yang diberikan oleh narasumber menjadi motivasi bagi LDII untuk meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan,” tutupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.