Hong Kong (22/11). Kemampuan Hong Kong dan Singapura menekan lonjakan kasus baru Covid-19, membuat dua negeri itu berencana membuat travel bubble atau gelembung perjalanan Hong Kong-Singapura. Namun kabar bagus itu, tiba-tiba ditunda kurang dari 24 jam sebelum peluncurannya.

Hal ini memang mengejutkan para pelaku bisnis dan pariwisata. Dua hub bisnis Asia itu, dibutuhkan untuk perjalanan udara bebas — yang memungkinkan pemulihan bisnis lebih cepat, “Tetapi lonjakan infeksi virus korona di Hong Kong berarti pengaturan itu akan ditunda selama dua minggu,” kata Edward Yau, sekretaris perdagangan dan pembangunan ekonomi Hong Kong, pada konferensi pers Sabtu (21/11).

Menurut CNN, Hong Kong melaporkan 43 kasus virus korona baru pada hari Sabtu, lonjakan harian tertinggi dalam lebih dari tiga bulan. Di antara mereka, 36 ditransmisikan secara lokal — termasuk 13 yang tidak dapat dilacak. Hong Kong telah mencatat 5.561 kasus Covid-19, termasuk 108 kematian, sejak wabah dimulai, sementara Singapura telah melaporkan 58.000 infeksi dan 28 kematian.

Melihat pertumbuhan kasus baru itu, gelembung perjalanan antara Hong Kong-Singapura bisa menjadi masalah besar bagi dua destinasi tersebut. Baik Hong Kong maupun Singapura, tak ingin merusak hasil jerih payah mereka membendung Covid-19 dengan peraturan kedatangan yang ketat dan telah diberlakukan selama berbulan-bulan. Kedua pemerintah negeri itu, sebelumnya telah menutup perbatasan dan menolak masuk sebagian besar non-penduduk dan pengunjung jangka pendek. Di Hong Kong, penduduk yang kembali diharuskan menjalani karantina selama 14 hari dan memakai gelang elektronik untuk melacak lokasi mereka.

Cara Kerja Travel Bubble Hong Kong-Singapura

Sejatinya gelembung perjalanan itu akan dimulai hari Minggu (22/11) dengan satu penerbangan sehari ke setiap kota, dengan kuota 200 pelancong per penerbangan — dan kemudian ditetapkan meningkat menjadi dua penerbangan sehari.

Wisatawan harus memenuhi parameter tertentu sebelum memulai perjalanan, seperti tidak melakukan perjalanan dalam 14 hari sebelumnya, dan menjalani pengujian wajib Covid-19. Tetapi mereka tidak harus menjalani persyaratan karantina atau pemberitahuan tinggal di rumah, atau rencana perjalanan terkontrol, pada saat kedatangan.

Namun, pengaturan tersebut selalu menyertakan peringatan bahwa jika situasi Covid-19 memburuk di kedua kota tersebut, rencana tersebut akan ditangguhkan.

Otoritas Penerbangan Sipil Singapura awalnya mengumumkan pada Sabtu pagi bahwa gelembung perjalanan dengan Hong Kong akan diluncurkan sesuai jadwal. Tetapi pada hari itu juga, Menteri Transportasi negara kota Ong Ye Kung mengumumkan telah terjadi perubahan rencana.

“Mengingat situasi yang berkembang di Hong Kong, Sekretaris Edward Yau dan saya berdiskusi lebih lanjut sore ini, dan memutuskan bahwa akan lebih baik untuk menunda peluncuran air travel bubble (ATB), dalam dua minggu. Kami akan meninjau dalam dua minggu pada tanggal peluncuran baru dan perbarui lagi,” kata Ong.

Hong Kong telah mengalami peningkatan tajam dalam infeksi virus corona dalam beberapa hari terakhir, setelah berminggu-minggu jumlah kasus yang terus rendah. Pusat Perlindungan Kesehatan Hong Kong “sangat mendesak” masyarakat untuk menghindari semua perjalanan yang tidak penting di luar Hong Kong, dan mengimbau penduduk untuk menghindari keluar rumah, makan di luar, dan melakukan kontak sosial.

“Skala peningkatannya sangat mengkhawatirkan,” kata Chuang Shuk-kwan, kepala Cabang Penyakit Menular di Pusat Perlindungan Kesehatan Hong Kong. Dia memperingatkan bahwa peningkatan kasus baru ini akan “sangat sulit dikendalikan.” (CNN TRAVEL)

Selalu Update Berita Terbaru di Archipelago Insider

Leave a Reply

Your email address will not be published.