Singapura sepertinya populer dengan wisata keluarga ataupun milenial. Selain itu, sebagai negeri untuk bisnis dan belanja, Singapura memiliki kasino. Dan, ssst! Kota itu memiliki kawasan prostitusi legal. Atau yang populer disebut sebagai Distrik Lampu Merah.

“Oke, sekarang kita akan berjalan melewati sudut yang menjual obat-obatan seks, lihat apa kamu bisa menemukan pil yang berbeda,” ujar pemandu wisata Singapura Cai Yinzhou. Kelompok wisatawan itu jelas tak menduga, mereka menemui wisata seks di negeri yang tertib luar biasa itu.

Tentu saja Cai Yinzhou bukanlah pramuwisata biasa. Saat ini menginformasikan hal tersebut, itulah sisi pariwisata Singapura yang tak banyak orang tahu. Singapura memang populer dengan Gardens by the Bay, Chinatown, dan Orchard Road, tapi bagi petualang seks, Geylang sama populernya. Memang tak begitu luas, namun itulah tempat prostitusi legal satu-satunya di Singapura.

Kios-kios yang dimaksud Yinzhou sebenarnya menjajakan berbagai stimulan, mulai dari Viagra hingga pil yang diduga terbuat dari penis harimau dan sisik trenggiling.Semuanya mengklaim dapat membantu memberikan dorongan bagi pria di atas ranjang. Menurut CNN, semua itu ilegal tanpa dilengkapi resep dokter.

Bila obat-obatan penguat kejantanan pria itu ilegal, rumah-rumah bordil di sisi lain kawasan itu terbilang legal. Geylang yang luasnya 10 km2, berisi 100 rumah bordil. Tapi ingat, kunjungan wisata ke sana bukanlah tamasya voyeuristik. Tapi, bila Anda seorang penikmat seks sesaat, bisa menemukan tempat yang legal.

Yinzhou pramuwisata itu, mengajak rombongan turis ke sana untuk mengeksplorasi faktor-faktor sosial, politik dan ekonomi yang telah membentuk, dan terus memengaruhi komunitas di Geylang. Antara rumah warga dan kompleks Distrik Merah itu memiliki batas sosial yang tegas.

“Saya sangat menikmati menunjukkan kepada orang-orang keterkaitan dari berbagai masalah,” jelas pria berusia 30 tahun yang energik. Ia mengetahui daerah itu lebih baik daripada kebanyakan orang, yang telah tinggal di Singapura sepanjang hidupnya. Menurutnya, masalah di Geylang terbilang rumit, dari prostitusi hingga populasi besar pekerja migran yang mencari nafkah di Singapura.

Selama perjalanan Yinzhou membahas topik-topik seperti asuransi kesehatan dan kerusuhan Little India, sambil mampir di toko bahan makanan, klinik medis, pasar pencuri, LSM, kuil, rumah klan, layanan mandiri 24 jam otomatis. Juga menyinggahi toko mainan seks dan taman bir yang menjual bir termurah — hanya SGD $ 3,30 (US$2,46) untuk sebotol besar Tsing Tao.

“Tempat ini memiliki konsentrasi rumah pelacuran dan institusi keagamaan tertinggi di Singapura,” kata Yinzhou. Geylang seperti punya dua sisi yang berbeda, spektrum antara keselamatan dan dosa. Tur biasanya bermula dari stasiun kereta MRT terdekat. Lalu menyambangi gang yang runtuh — salah satu dari banyak gang yang berkelok-kelok di antara 44 Lorong (jalur dalam bahasa Melayu) yang menyebar seperti arteri di sepanjang Jalan Geylang.

Yinzhou menjelaskan bagaimana gang-gang – yang awalnya dirancang sebagai penahan api di antara ruko-ruko, beberapa di antaranya berusia lebih dari satu abad – kini menjadi tempat wisata untuk menyelami komunitas Geylang. Jemuran dan pendingin ruangan bisa menjadi ukuran betapa padatnya Geylang.

Populasi Migran Lokal
Yinzhou, yang mulai melayani tur Geylang Adventures pada tahun 2014, berpendapat bahwa lingkungan tersebut telah mengembangkan karakter uniknya sendiri, karena diserahkan sepenuhnya kepada kekuatan pasar bebas. Stigma Geylang di kalangan penduduk setempat dan kondisi ruko-ruko tua yang bobrok, membuat para pemiliknya tertarik untuk menyewakannya kepada pekerja migran berupah rendah.

Para pekerja ini datang ke sini dari India, Bangladesh, China, dan negara-negara tetangga lainnya untuk melakukan pekerjaan yang hanya diinginkan oleh sedikit orang Singapura. Mereka bekerja sebagai perawat taman dan membersihkan sampaj dengan bayaran rendah dan sedikit daya tawar di tempat kerja. Banyak yang ditempatkan di ruko dan apartemen tua oleh majikan. Gayung bersambut, mereka dapat lokasi di pusat jota dan harga sewa yang sangat murah.

Yinzhou menjelaskan bagaimana hal itu telah menjadi permainan kucing dan tikus yang konstan dengan penegakan hukum. Media massa Singapura pernah memberitakan lebih dari 60 pekerja tinggal di sebuah flat dengan tiga kamar.

Masalah yang dihadapi oleh pekerja migran, dari perawatan kesehatan yang buruk hingga upah rendah, adalah tema yang berulang di bagian pertama tur. Dan Yinzhou tahu banyak tentang Geylang, setelah bekerja dengan bagian komunitas ini selama beberapa tahun.

“Sebagai penduduk lama Geylang, saya hanya ingin mencoba dan menghilangkan beberapa stereotip Geylang,” jelasnya sederhana, ketika ditanya apa yang menginspirasinya untuk memulai tur. “Ini juga merupakan kesempatan besar untuk membawa beberapa masalah ini kepada masyarakat,” ujarnya.

Kawasan Geylang. Dok. JalanJalanSingapura.com

Rumah-rumah di Geylang, bila tidak ditandai dengan neon yang berwarna-warni ceria, mungkin tak bisa dikenali sebagai tempat prostitusi. Bahkan hanya dengan melihat lampu neon, para pengunjung bisa mengetahui kewarganegaraan para wanita di dalamnya. Menurut Yinzhou, pemerintah secara teratur memeriksa para PSK dari penyakit menular seksual, “Tes positif atau kehamilan yang tidak disengaja bisa berarti deportasi instan,” kata Yinzhou. “Negara tidak tertarik menanggung biaya sosial jangka panjang dari para pekerja ini,” tegasnya.

Yinzhou menjelaskan meski rumah bordil itu legal, meminta untuk melakukan seks tidak diperbolehkan. Hal itu membuat pekerja jalanan sangat rentan terhadap pelecehan dan dipaksa beroperasi di luar hukum, dengan hanya segelintir LSM yang dapat membantu mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published.