Jakarta (9/8). Perayaan kemerdekaan Singapura setiap tanggal 9 Agustus, mengingatkan Perdana Menteri Lee Hsien Long tentang parade akbar negaranya, Aneka Ragam Ra’ayat/Rakyat, pertama kali pada tahun 1959.

Saat memberikan pidato kenegaraan kemarin (8/8) di Shaw Foundation Symphony Stage, Botanic Gardens, Singapura, PM Lee menyebut bahwa perhelatan akbar tersebut menyatukan ragamnya budaya, ras, serta agama di negara itu.

“Saya ingat menonton acara itu dengan ayah saya (Lee Kuan Yew, red.) yang kemudian menjadi awal perjalanan negara ini menjadi satu bangsa,” kata PM Lee.

Mengutip Strait Times, acara itu juga sebagai sarana apresiasi budaya gagasan Pemerintahan PAP (People’s Action Party) yang baru terpilih, berupa rangkaian konser multi-budaya mendatangkan berbagai etnik masyarakat.

Menteri Kebudayaan kala itu, S. Rajaratnam memimpin lokasi pertama di Bukit Panjang dengan 7.000 penonton dan terus berlangsung pada pagelaran selanjutnya yang tak kalah meriah sebanyak 3.000 orang. Berlangsung hingga tahun 1964, acara itu memang bertujuan memperkuat pemahaman antar golongan sebagai identitas negara multikultur.

Kesuksesan parade itu rupanya juga menjadi ide berdirinya Teater Nasional, ikon bangunan penting yang pertama di Singapura pada tahun 1963. Sejak saat itu, setiap hari libur nasional di Singapura ramai dengan banyak festival kebudayaan dan menjadi daya tarik wisatawan lokal maupun internasional.

Pada tahun 2021, perayaan kemerdekaan Singapura tetap terselenggara dengan prokes ketat di Marina Bay (9/8) Senin ini, setelah menyanyikan lagu kebangsaan Singapura yang mengiringi masuknya PM Lee Hsien Loong dan Presiden Singapura Halimah Yacob ke tengah lapangan upacara.

Menampilkan manuver jet tempur berkecepatan 600 kilometer per jam, peringatan kemerdekaan itu berakhir dengan pelepasan tembakan senjata ke udara. Pemerintah juga menggelar konser kemerdekaan secara daring karena Singapura tengah mengalami lonjakan kasus Covid-19 belakangan.

Upaya Bersama Pemerintah-Rakyat Menghadapi Pandemi

Pemerintah Singapura selama ini telah mengupayakan keseimbangan hidup di tengah pandemi melalui pelayanan kesehatan masyarakat, melakukan disiplin sosial, serta memberikan dukungan keuangan untuk keluarga, pekerja, bisnis yang terkena dampak.

Setidaknya telah mengalami penurunan angka kematian dari kasus Covid-19, berkat dukungan kerjasama antara pemerintah dengan tenaga kesehatan.

“Hari ini, kami memvaksinasi 1% dari jumlah penduduk Singapura setiap harinya. Lebih dari dua pertiga penduduk sudah vaksinasi lengkap, terutama para orang tua, dan lebih dari 85% sudah menerima setidaknya satu dosis, sehingga penduduk kami sekarang lebih terlindungi,” ujar PM Lee.

Pandemi Covid-19 sebenarnya memunculkan ketegangan dalam masyarakat hingga timbul permasalahan seperti perlunya dukungan pada pekerja dengan upah yang lebih rendah, karena lebih terdampak Covid-19. Pemerintah memberikan bantuan jangka panjang berdasarkan ekonomi berbasis keterampilan dalam rangka meningkatkan pendapatan pekerja upah rendah, serta menciptakan peluang baru meningkatkan keterampilan dan kemajuan dalam pekerjaan.

Selanjutnya pemerintah Singapura juga menyesuaikan kebijakan dalam mengelola kualitas, jumlah, dan konsentrasi warga asing di Singapura. Sehingga tidak terjadi kesenjangan dan investasi modal tetap berjalan di sana. Dengan pemerintah Singapura tetap menerima pekerja asing dan pendatang baru, itu tidak bertentangan dengan kepentingan fundamental serta nilai-nilai keterbukaan.

Mengenai permasalahan ras dan agama, agar penduduk Singapura tetap bangga menjadi masyarakat multikultur yang harmonis dan unik, pemerintah menetapkan norma sosial di negara berdasarkan pengalaman hidup dan aspirasi yang berbeda.

Norma-norma tersebut terpengaruh tren eksternal yang cenderung terbuka dan terhubung oleh seluruh dunia. Karena itu, perihal kerukunan ras perlu penguatan kembali untuk generasi selanjutnya.

“Saya yakin negara Singapura akan jadi masyarakat yang lebih harmonis, ekonomi yang lebih sejahtera, dan bangsa yang lebih sukses untuk generasi mendatang,” kata PM Lee. (Yuli/LINES)

Leave a Reply

Your email address will not be published.