Jakarta (30/5). Kamis lalu, jaringan internet 5G resmi diluncurkan bagi publik. Meski jaringan tersebut baru mencakup wilayah Jakarta, namun peluncuran itu menandakan usaha negara memperbaiki kualitas jaringan broadband mobile di tengah pembatasan alokasi frekuensi di Indonesia.

Presiden Direktur Telkomsel, Setyanto Hantoro mengatakan, “Pengembangan jaringan yang simultan perlu biaya besar dalam hal ini adalah belanja modal yang masif. Sedangkan dalam pengembangan ini ada kemungkinan masyarakat belum banyak yang menggunakan, sehingga secara aspek ekonomi belum mencapai,” katanya.

Namun demikian, perencanaan pelebaran cakupan jaringan ke kota lain tetap ada. Hantoro juga mengungkapkan, perusahaan telekomunikasi pelat merah itu tengah berupaya menekan biaya bagi para pengguna yang mencoba jaringan 5G agar tidak perlu mengganti kartu sim lama mereka.

Mengenai perbaikan limitasi frekuensi, hal tersebut dikembalikan lagi pada wewenang pemerintah. Melansir Jakarta Globe, founder platform diskusi IndoTelko Forum, mengatakan bahwa pemerintah sebaiknya membuat frekuensi jaringan bands yang mumpuni untuk layanan 5G. Sehingga akan lebih mudah bagi perangkat-perangkat terkoneksi pada jaringan serta menjangkau para pengguna.

Asosiasi GSM, sebuah grup global untuk operator jaringan mobile, merekomendasikan kebijakan agar setiap pemerintah memberikan keleluasaan pada operator telekomunikasi agar menempatkan jaringan frekuensi rendah, menengah, dan tinggi sebagai penyediaan cakupan luas dan mendukung penggunaan–terutama bagi jaringan 5G itu sendiri.

Apa Itu 5G?

Situs Qualcomm menjabarkan mengenai teknologi generasi kelima jaringan mobile sebagai jaringan nirkabel yang menawarkan koneksi virtual bagi setiap orang dengan segala sesuatunya secara bersamaan, baik itu objek, mesin, dan perangkat. Teknologi nirkabel 5G mengantarkan data dengan kecepatan tinggi dalam satuan Gbps yang sangat rendah latensi. Intinya, 5G menjanjikan performa dan efisiensi tinggi bagi setiap penggunanya.

Teknologi 5G berdasarkan OFDM (Orthogonal Frequency Division Multiplexing)  yang merupakan metode modulasi sinyal digital di beberapa saluran berbeda untuk mengurangi gangguan. Dalam hal ini, 5G pada bagian antarmuka menggunakan 5G-NR (5G-New Radio) bersamaan dengan prinsip OFDM. Bandwidth yang digunakan juga lebih luas daripada 4G LTE meski prinsipnya adalah sama. 

Namun, antarmuka 5G-NR lebih meningkatkan OFDM daripada sebelumnya, sehingga fleksibilitas dan skalabilitas lebih tinggi. 5G membawa bandwidth lebih tinggi dari sub-3 GHz pada jaringan 4G, menjadi kisaran 100 GHz. 

Rancangan 5G bukan hanya sebagai layanan broadband seluler yang lebih cepat dan lebih baik dibanding 4G LTE, tapi juga meluas ke area layanan baru seperti komunikasi yang critical dan hubungan masifnya IoT, yang dimungkinkan pada desain antarmuka seperti desain subframe Test-Driven Development (TDD) mandiri baru. Yang mana subframe tersebut berpengaruh pada pergantian transmisi uplink dan downlink.

Leave a Reply

Your email address will not be published.