Jakarta (26/1). Kedelai pangan yang populer di Indonesia. Produk turunannya berupa tempe berjuluk superfood, saking supernya, setiap terjadi fluktuasi nilai dolar, tempe pun jadi politis. Harga bisa naik dan efeknya berganda. Tempe bisa tiba-tiba ukurannya mengecil di warung Tegal (Warteg) bila dolar sedang melambung.

Persoalannya haruskah impor kedelai terus-menerus, saat Indonesia masih berjuluk negeri agraris? Hal ini jadi perhatian Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo. Ia menargetkan kedelai lokal bisa menutupi kebutuhan nasional dan impor menjadi pilihan kedua, “Kuncinya pada mengatur ketentuan harga acuan atau Harga Pokok Penjualan (HPP), supaya kedelai lokal bisa bersaing. Petani pun mendapat kepastian harga dan keuntungan,” ujar mantan gubernur Sulawesi Selatan itu.

Syahrul yang pada Senin (25/1) mengatakan, Kementerian Pertanian (Kementan) terus bekerja keras agar kedelai dapat masuk ke dalam 12 komoditas strategis pangan. Namun yang mula-mula dibenahi adalah harga kedelai lokal, yang menurutnya masih kalah dengan kedelai impor.

Indonesia mengimpor kedelai terutama dari Brasil, Amerika Serikat, dan Kanada. Dibanding kedelai lokal, kedelai impor jauh lebih murah. Risiko lain, bila kebutuhan dalam negeri negara pemasok besat — misalnya untuk bahan bakar — maka harga kedelai di Indonesia kian melambung. Dan tentu, makanan murah itu jadi tak terjangkau masyarakat umum, yang biasanya mendapat protein nabati dari tempe.

Harga kedelai lokal, menurut Syahrul, rata-rata Rp6.500/kilogram, sementara harga kedelai impor mencapai Rp5.000/kg atau hanya selisih seribu perak. Ia mengingatkan pada masa Orde Baru, Indonesia pernah swasembada kedelai, dengan nilai HPP enam kali lebih tinggi ketimbang beras, yang membuat petani untung.

Saat ini, harga kedelai jungkir balik, petani hanya mendapat keuntungan antara Rp1,5 juta-2 juta/Ha. Bandingkan petani jagung yang mampu menangguk laba, Rp4 juta-5 juta/Ha. Bahkan menanam beras juga lebih menguntungkan dibanding kedelai, petani bisa mengantongi Rp6 juta/Ha.

Ia telah membahas HPP kedelai dengan Presiden Jokowi, dan mengusulkan agar kedelai juga diproteksi. Caranya, dengan membatasi impor kedelai, dan pada kasus tertentu menutup keran impor kedelai.

Leave a Reply

Your email address will not be published.