Jakarta (24/8). Mantan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menyampaikan agama menjadi sesuatu yang tidak bisa dilepaskan. Moderasi beragama adalah cara membangun kemaslahatan umat, toleransi, memuliakan manusia. Hal itu dikemukakan saat webinar kebangsaan LDII dengan mengambil tema “Beragama dalam Bingkai Kebangsaan untuk Merawat dan Menjaga Keutuhan Bangsa” di Kantor DPP LDII, Jakarta, Rabu (24/8).

Saat menjabat sebagai Menteri Agama 2014-2019, ia mencetuskan gagasan moderasi beragama. Menurutnya, moderasi beragama diperlukan karena Indonesia bangsa yang agamis. “Karenanya, paham dan amalan keagamaannya itu harus tetap dijaga dan dipelihara serta dirawat dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai bangsa Indonesia yang sangat agamis ini memiliki paham-paham keagamaan yang melampaui batas, yang dikenal dengan istilah ekstrimis,” ujarnya.

Oleh karenanya, cara beragama harus senantiasa terjaga ke moderatannya sehingga pesan utama dari agama itu betul-betul tidak hanya bisa dipahami tapi juga dapat diejawantahkan dan diamalkan oleh setiap umat beragama.

“Di situlah tantangan bagi kita setiap umat beragama karena nilai agama itu selalu mengandung nilai-nilai yang universal namun juga ada yang particular, maka di tengah-tengah masyarakat yang majemuk, lebih mengedepankan nilai-nilai agama yang sifatnya universal itu,” tambah dia.

Wakil Ketua MPR RI periode 2009–2014 itu menjelaskan, ajaran agama itu selalu mengandung dua kategori yang bisa dibedakan. Ajaran bersifat universal yang nilai-nilainya diyakini sebagai sebuah kebenaran oleh manusia di dunia bahkan bagi orang yang tidak beragama sekalipun. “Contohnya seperti memanusiakan manusia, menghormati orang tua, memuliakan yang muda,” ujarnya.

Menurut Lukman Hakim Saifuddin, agama jangan sampai berlebihan dan melampaui batas. “Bukan memoderasi agamanya tapi cara kita memahami ajaran agama dan cara mengamalkannya,” jelasnya.

Ia menambahkan, ciri bangsa Indonesia adalah keberagaman dan keberagamaannya. Karenanya dengan moderasi beragama bukan menciptakan agama baru, melainkan penerapan pokok agama yang sudah diajarkan sejak dulu. Ajaran tersebut relevan dengan kebutuhan masa kini yang semakin global.

Adanya perbedaan nilai agama secara particular atau tertentu supaya saling menghargai dan menghormati. “Keragaman harus dimaknai secara positif, disikapi secara bijaksana. Cara pandang tentang agama untuk menebarkan kebajikan sehingga menghadapi keragaman itu bukan sesuatu yang negatif, melihat perbedaan bukan ancaman, dan tidak menganggap musuh,” tambahnya.

Ia mengapresiasi LDII yang menginisiasi webinar kebangsaan yang bertema besar moderasi beragama. Menurutnya, LDII memilik peran besar dalam mensosialisasikan moderasi beragama hingga akar rumput.

“Saya pikir perannya LDII sangat besar. Harapan masyarakat sangat besar, kita tahu LDII adalah Ormas yang mempunyai sejarahnya tersendiri,” tambah dia.

Dia menambahkan, seperti yang disampaikan Ketua DPP LDII, Singgih Tri Sulistiyono, LDII memiliki sejarah tersendiri yang disebutnya menjadi beban sejarah sampai saat ini. Inilah tantangan dan hambatan LDII untuk bagaimana meyakinkan masyarakat bahwa LDII yang sekarang berbeda dengan yang dulu.

“Karena kiprah LDII dengan paradigma barunya, sebenarnya memiliki potensi yang sangat besar untuk ikut berkontribusi dalam menjaga dan merawat Indonesia kita yang agamis,” tuturnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.