Jakarta (9/12). Harga ayam potong atau live bird yang turun beberapa bulan terakhir mulai membaik. Namun harga ayam potong itu, masih belum sesuai dengan Harga Acuan Pembeli (HAP) di tingkat pedagang yang seharusnya Rp21.000 per kilogram.

Ketua Umum DPP Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (PINSAR) Singgih Januratmoko mengatakan, HAP di tingkat peternak idealnya Rp21.000 per kilogram, sementara karkas di tingkat konsumen Rp35.000 per kilogram, “Belakangan harga sampai Rp15.000 per kilogram, yang merugikan peternak. Namun belakangan harga mulai mulai naik, namun belum menyentuh Rp21.000 per kilogram,” ungkap Singgih.

Harga ayam yang mulai stabil tersebut, menurut Singgih karena adanya campur tangan dari pemerintah. Ia menegaskan pihaknya mendukung langkah-langkah Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementan, Nasrullah, “Dirjen PKH telah mengatur supply and demand dengan mengurangi peredaran bibit ayam usia sehari (DOC),” ujar Singgih.

Peredaran DOC, menurut Singgih yang ideal mencapai 53 juta ekor per minggu, mengakibatkan harga jual live bird di tingkat peternak menjadi stabil, “PINSAR berharap Dirjen PKH melanjutkan program tersebut minimal sampai dengan Januari, karena memang secara hitungan jika terjadi kelebihan DOC berimbas pada menurunnya harga ayam,” ungkap Singgih.

Ia berharap kondisi peredaran DOC yang stabil tersebut, diikuti dengan kebijakan yang terintegrasi dengan sektor lainnya. Singgih memberi contoh, salah satunya kebijakan tata niaga terkait impor jagung, yang menjadi bahan utama untuk pakan ayam. Dengan adanya kebijakan yang terintegrasi, peternak rakyat dapat bertahan.

“Saat ini, jumlah peternak ayam rakyat tidak sampai 20 persen. Banyak yang gulung tikar karena antara HAP dengan biaya produksi yang lebih tinggi merugikan peternak,” pungkas Singgih yang juga Anggota Komisi VI DPR RI.

Leave a Reply

Your email address will not be published.