Selama bertahun-tahun, lingkungan Moravia di Medellin adalah tempat pembuangan sampah kota. Namun dalam beberapa tahun terakhir, bekas tempat pembuangan akhir (TPA) itu, berubah menjadi pusat seni dan budaya yang berkembang pesat.

Medellin kota kedua terbesar setelah Bogota, ibu kota Kolombia. Di wilayah itu terdapat Moravia, sebuah wilayah yang hiruk pikuk dengan pengeras suara para penjaja alpukat. Mereka menarik gerobak kayu alpukat raksasa di belakangnya. Keriuhan itu bercampur dengan aroma keju dan donat yang digoreng. Di kota yang padat itu, pagi selalu marak dengan motor, truk ekspedisi barang, dan anjing liar yang menyusuri jalan sempit.

Keriuhan itu tak pernah terbayangkan beberapa tahun lalu. Medellin bereputasi “ibu kota pembunuhan” tidak resmi di dunia. Sialnya lagi, Moravia populer sebagai tempat pembuangan sampahnya.

Sebagai “Kota Paling Berbahaya” di dunia — sebutan Timemagazine — pada 1991, tingkat pembunuhan mencapai tingkat tertinggi di dunia. Rerata 380 dibunuh per 100.000 orang ketika perang narkoba merembes ke jalan-jalan dan aspek kehidupan sehari-hari. Hari ini, tahun-tahun itu tampaknya sudah lama berlalu. Tingkat pembunuhan kira-kira seperlima belas dari sebelumnya. Ada rasa revitalisasi yang tulus di udara dan proyek-proyek publik menghembuskan kehidupan baru ke kota.

Sistem Metro — kereta listrik komuter — yang bersih sekarang mendesing di atas tanah. Kereta yang terbang di jalan layang itu, melintasi lereng bukit, dan eskalator umum melewati lingkungan Comuna 13, yang dulunya kerap membuat orang kesasar karena tidak dapat dinavigasi. Moravia bahkan menjadi tempat yang nyaman untuk menatap Pegunungan Andes. Dan yang terpenting, Moravia mampu menghubungkan orang-orang di beberapa lingkungan termiskin dengan pusat kota dan peluang kerja.

Moravia Bukit Hijau di Jantung Medellin

Medellin merupakan kota yang bersolek dengan warna krem berpadu dengan warna bata. Bagian utara kota ini dikelilingi oleh pegunungan. Di sana, terdapat bukit hijau, sebuah taman hiburan Parque Norte: Morro de Moravia (Bukit Moravia). Bukit berselimut rumput itu, memiliki jalan setapak dan taman. Berseling dengan rumah kaca besar di atasnya.

Sesampai di puncak bukit, wisatawan bisa menemukan semacam monumen, berupa gubuk dengan foto-foto hitam putih masa lalu Moravia. Gubug itu dibangun dari sampah dan puing-puing kota yang dibuang. Dan itulah yang tersisa semasa Moravia masih menjadi pembuangan sampah raksasa.

Ketika kereta api regional Ferrocarril de Antioquia menghubungkan Moravia dengan pedesaan di sekitarnya pada tahun 1960-an. Kereta itu membawa keluarga-keluarga terlantar yang terpaksa pindah ke batas kota yang lebih aman. Kehidupan mereka yang dulu tenang di luar Medellin, menjadi berbahaya karena milisi sayap kanan dan kiri terlibat dalam perang partisan atas tanah Moravia.

Pemukiman di Moravia – yang terbentuk pada awal 1900-an sebagai pemukiman linier yang berbatasan dengan rel kereta api, lalu membiak melapaui batas itu. Pada tahun 1970-an, kota mengizinkan area tersebut untuk digunakan sebagai tempat pembuangan sampah kota. Akibatnya, perkampungan itu menjadi tumpukan sampah. Akibatnya, sejumlah keluarga yang sebelumnya mengungsi dipindahkan ke perbukitan barat Medellin.

Keluarga lain menolak relokasi lebih lanjut, karena sampah mulai menumpuk di sekitar mereka. Dari keluarga yang menolak dan bertahan, banyak yang menjalankan operasi daur ulang sampah dari rumah mereka untuk mencari nafkah.

Selama tahun 1980-an dan 1990-an, Moravia – seperti “Kota Musim Semi Abadi” karena tenang, tak seperti Mendellin yang ingar-bingar dengan kekerasan dan perdagangan narkoba. Pada tahun 2000-an pada saat puncak konflik, harapan mulai muncul. Pemerintah kota Mendellin memperbolehkan warga yang tinggal di dekat tumpukan sampah untuk membeli dan memperoleh tanah serta rumah secara sah.

Bukit Moravia yang menjadi perkebunan bunga lavender menjadi lanskap Mendellin. (Credit: Alcadía de Medellín)

Tempat Pembuangan Sampah Siubah Jadi Taman Kota

Pada tahun 2004, sekitar 15.000 orang tinggal di antara sampah di Morro de Moravia. Pada tahun 2006, daerah tersebut dinyatakan sebagai bencana publik. Lalu, kolaborasi penduduk Moravia, pemerintah daerah, universitas dan lembaga internasional merencanakan dan membuat peta jalan. Lanskap pembuangan sampah diubah menjadi taman kota.

“Tempat pembuangan sampah diubah menjadi taman kota, memberi jalan bagi dua ikon: bukit Moravia dan pusat budaya,” kata Cielo Maria Holguin Ramirez, salah satu pendiri Moravia Tours. “Ini adalah dua tempat dengan potensi wisata yang besar karena menunjukkan transformasi wilayah berkat pemberdayaan masyarakat dan intervensi negara, sebagai upaya bersama yang didorong oleh urbanisme sosial,” ujarnya.

Ramirez dengan bangga mengantar penduduk lokal dari tempat lain di Medellin dan turis melalui Moravia. Sepanjang perjalanan, ia berhenti di Centro de Desarrollo Cultural (Pusat Pengembangan Budaya), pusat pertemuan dan ruang komunal Moravia yang dibuka pada 2008. Lokasi itu ramai dengan iklan, seniman, dan program budaya. Selain taman seluas 30.000 meter persegi yang dulunya merupakan tumpukan sampah, Ramirez juga mengajak turis ke dinding dengan mural warna-warni yang menggambarkan pahlawan komunitas.

Ruang publik yang berhias mural. (Foto: Kirsten Walla/istockphoto.com)

Tujuan terakhir, tentu saja mengudap hidangan lokal di restoran El Mezzón De La 55. Restoran itu menerapkan ekoturisme, dengan hidangan yang dibuat warga. Penduduk setempat membawa mangkuk sup dan mengisinya dengan sancocho (sup kaldu ayam, sepotong kecil jagung rebus dan sayuran) – dan almojabana tanpa merek (roti keju Kolombia) toko roti yang beroperasi dari rumah warga. BBC Travel

Leave a Reply

Your email address will not be published.