Jakarta (29/5). Sebutan ‘Eyes of the Amazon’ tampaknya pantas untuk buah yang menampilkan daging dan biji seperti bentuk mata serta berwarna kulit merah menyala.Guarana, buah yang digadang sebagai superfood juga stimulan ini adalah warisan lama orang-orang asli Satere-Mawe beserta cerita mitosnya.

Pantai Ponta da Maresia yang merupakan tempat berkumpul orang Mawe, memiliki air yang hangat pada bulan Agustus, yakni dimulainya musim kering saat level ketinggian sungai Maues-Acu menurun. Waktu tersebut juga menandai musim guarana, buah asli wilayah Mawe atau Maues dengan ciri, kulit merahnya mengelupas terbuka untuk memperlihatkan daging berwarna putih serta biji hitam yang menyerupai bola mata.

Wilayah Mawe adalah produsen utama guarana di Brasil. Secara ekonomi dan budaya, buah ini menjadi komoditi paling berharga, yang mana biji buah tersebut dimanfaatkan sebagai stimulan dan kebutuhan medis lain. Setiap tahunnya, budidaya guarana menjadikan perekonomian Brasil untuk jutaan dolar. Karena bagaimanapun caranya, mereka telah menemukan cara mengubah minuman bersoda menjadi minuman berenergi sebaik obat-obatan dan kosmetik.

Guarana mengandung kafein tinggi, empat kali lebih banyak dari biji kopi yang juga dimiliki stimulan psikoaktif seperti tanin dan saponin, berdasarkan tingkatan performa kognitif. Beberapa riset mengenai buah ini juga mengatakan mengenai potensi pencegahan penyakit kardiovaskuler, anti-inflammatory, antioksidan, antidepresan, memperlancar usus, bahkan afrodisiak.

Sekitar 75 km sebelah hulu sungai Mawe, orang-orang Satere-Mawe masih mengolah guarana secara tradisional pada 8.000 km persegi wilayah teritorial asli yang terlindungi. Mereka membuat pembibitan dari balik tanaman rambat guarana liar (Paullinia Cupana), lalu ditransplantasikan untuk membuka lahan dimana tumbuhan itu berkembang menjadi semak berbuah.

Selama musim panen pada November ke Maret, benih tersebut dicuci, dipanggang, dikupas, lalu diberi alas dan dicampur dengan air untuk memberi bentuk seperti tongkat yang dikeringkan di rumah pengasapan dan dibiarkan dalam jangka tahunan. Tongkat-tongkat ini kemudian diparut di batu dan direndam dalam air untuk membuat rasa yang bersahaja dinamakan capo. Ini adalah minuman sehari-hari dan juga minuman pengiring ritual atau ritus peralihan seperti Festa da Tocandeira, upacara penyambutan umur bagi para laki-laki muda. 

Penyiapan dan prosesi suguhan capo juga memiliki aturan tersendiri, seperti siapa yang akan menyuguhkan minuman pada tamu, yang mana itu harus terbagi rata, dan mangkuk yang kembali tidak boleh kosong ke host acara.

Legenda Mistis Dibalik Guarana

Wilayah Mawe seringkali diartikan sebagai tanah dari guarana, tapi sejarah buah itu sudah lama mendahului. Orang asli Satere-Mawe telah menanam guarana di hutan nenek moyang mereka selama berabad lamanya. Moyang mereka, lah yang menjinakkan spesies itu, mempelajari seluk-beluk tanaman itu dan sekitarnya, serta memberikan teknik penanaman terbaik.

Adalah 352 tahun yang lalu, pada catatan awal kemunculan guarana, ketika itu juga pertama kalinya orang Satere-Mawe menjalin kontak dengan orang Eropa. Tahun itu adalah 1669,yang mana seorang pendeta Yesuit, Joao Felipe Betendorf yang menuliskan ciri-ciri buah guarana pada saat misi kerajaan Portugis berjalan–membuka wilayah Amazon dan mengambil kekayaan alamnya–waktu itu menuliskan, “Buah kecil yang kering dan renyah seperti bola dan mereka berharga seperti berharganya emas” dan hal itu juga yang membuat koloni Portugis menyebut Satere-Mawe adalah ‘aset paling berharga’ pada abad ke-18.

Guarana terus dimonopoli hingga akhir abad ke-19 oleh Satere-Mawe, namun koneksi komersil itu hanya untuk menghindari unsur politik, moral, kultur, dan signifikansi spiritual yang dimilikinya.

Presiden General Council of the Satere-Mawe Tribe, Obadias Batista Garcia menjelaskan, “Bagi kami, ini adalah tumbuhan mistik. Asli orang-orang kami,” katanya.

Legenda turun-temurun wilayah itu menjelaskan bagaimana mereka turun dari pembunuhan anak, yang matanya dikubur dan tumbuh menjadi tanaman pertama Satere-Mawe (warana–sebutan lain guarana), berasal dari orang pertama Satere-Mawe yang muncul. Garcia menambahkan, “Hal itu adalah sesuatu yang para orang tua ceritakan untuk anak mereka saat tidur setiap malam, jadi kita dapat belajar mengenai hidup, menjadi pemimpin, atau menjadi orang tua yang baik dan anak-anak yang baik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published.