Jakarta (19/5). Pesawat tempur Israel terus menggempur Gaza pada Selasa (18/5) dan tembakan roket ke Israel berlanjut setelah jeda singkat. Di jalanan, warga Palestina turun ke jalan di kota-kota Tepi Barat dan mendapat sambutan dari berbagai dunia.

Ribuan orang berkumpul di berbagai kota di Tepi Barat, termasuk Ramallah dan Hebron, pada Selasa (18/5) setelah sejumlah kelompok Palestina, termasuk gerilyawan Hamas di Gaza dan Fatah di Tepi Barat, menyerukan serangan massal.
“Prioritas pertama bagi kepemimpinan politik Palestina sekarang adalah meminta Israel menghentikan kejahatan dan pembantaiannya terhadap rakyat kami di Gaza,” kata Wasel Abu Yousef, anggota Komite Eksekutif Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) di Ramallah, kepada CNN.

Israel memberlakukan penutupan parsial di Tepi Barat pada hari Selasa (18/5), menurut sumber keamanan Israel kepada CNN. Pihak keamanan Israel hanya mengizinkan pria berusia di atas 45 tahun dan pekerja konstruksi Palestina dengan izin kerja. Sementara itu, ledakan terlihat di Kota Gaza ketika pasukan Israel menargetkan daerah hunian padat warga Palestina dengan serangan udara pada Selasa pagi.

Serangan udara Israel memang semakin gencar sejak Senin (17/5). Pasukan Pertahanan Israel mengatakan pesawat tempur telah menyerang sembilan lokasi peluncuran roket di Gaza. Selain menyerang basis peluncuran roket, mereka juga menargetkan sistem terowongan di Gaza Utara. Pesawat-pesawat itu, juga menargetkan para komandan Hamas dan pasukan anti-tank mereka.

Akibat serangan Israel itu, Kementerian Kesehatan Gaza yang dikuasai Hamas mengatakan 217 orang, termasuk 63 anak-anak telah tewas dan 1.500 lainnya terluka. Lebih dari 58.000 orang mengungsi di sekolah-sekolah, menurut Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Mulanya, Israel mengizinkan truk yang membawa bantuan internasional ke Gaza untuk pertama kalinya sejak konflik dimulai pekan lalu. Namun, kebijakan itu diakhiri usai terjadi tembakan mortir di dua penyeberangan perbatasan.

Pertempuran memang sempat terhenti pada Selasa dini hari, namun berlanjut pada Selasa malam hingga Rabu dini hari (19/5). Dikabarkan, dua warga Israel tewasdi sebuah pabrik pengemasan pertanian di sisi Israel di perbatasan Gaza, menjadikan jumlah total korban tewas pada pihak Israel menjadi 12 orang, sejak kekerasan meletus lebih dari seminggu yang lalu.

Sirene juga dibunyikan sekali lagi pada hari Selasa di Ashkelon dan kota-kota lain, membuat penduduk melarikan diri lagi ke tempat penampungan. Pada Rabu (19/5), perang memasuki minggu kedua, yang merupakan konfrontasi Israel-Palestina yang paling mematikan sejak kedua belah pihak berperang pada tahun 2014.

Berbicara setelah kunjungan ke pangkalan angkatan udara Israel di Hatzerim, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan operasi akan terus berlanjut, “Sebagaimana diperlukan untuk memulihkan perdamaian bagi warga Israel. Saya yakin semua musuh kita di sekitar melihat harga yang kita kenakan untuk agresi terhadap kita, dan saya yakin mereka akan belajar pelajaran juga,” tambahnya.

Pasukan bela diri Israel atau IDF telah menghancurkan sebuah gedung perkantoran di dekat Gaza. Sebelum serangan terjadi, telah ada peringatan sehingga tak terjadi korban jiwa. Bangunan yang hancur itu, termasuk di antara beberapa infrastruktur yang digunakan oleh warga sipil. Israel telah berulang kali menuduh Hamas “sengaja” beroperasi di dekat gedung seperti rumah sakit dan sekolah, sehingga membahayakan warga sipil yang berisiko menjadi perisai manusia.

Selama akhir pekan, pasukan Israel menghancurkan gedung kantor yang jadi kantor media internasional seperti Al Jazeera dan The Associated Press. Israel mengklaim, gedung itu berisi aset intelijen militer Hamas. Hamas membantah tuduhan itu. Otoritas Hamas dan video dari lapangan menunjukkan sebuah klinik kesehatan di Kota Gaza rusak akibat serangan udara Israel. Kementerian Kesehatan di Gaza mengatakan klinik itu adalah salah satu pusat pengujian virus corona.

Kementerian sebelumnya memperingatkan penghancuran fasilitas medis bisa memicu lonjakan kasus Covid-19 karena mereka yang mengungsi ke tempat penampungan akan “terpapar penyebaran penyakit menular, terutama bahaya penyebaran virus corona.”


Leave a Reply

Your email address will not be published.