Hidup selama setengah abad di dalam rimba belantara Kolombia, para gerilyawan FARC mengembangkan adat istiadat tersendiri. Terutama bagaimana mereka mampu memberi makan 10.000 anggotanya selama 50 tahun. Para antropolog tertarik meneliti gaya hidup para pemberontak itu.

Malam memeluk daratan Kolombia dengan hawa sejuk. Mantan anggota Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia atau Fuerzas Armadas Revolucionarias de Colombia (FARC) Ricardo Semillas dan tetangganya memasak seperti mereka masih di hutan.

Mereka dengan sabar mengaduk telur, air, dan garam menjadi tepung. Mereka kemudian dengan hati-hati membagi adonan menjadi bola-bola, dan meratakannya sampai menjadi tembus pandang, seperti sifon lembut. Ketika minyak panas menyentuh lembaran adonan, segera adonan tipis itu menggelembung seperti tirai yang tertiup angin. Minyak panas itu mengubah warna adonan menjadi keemasan, yang disebut sebagai cancharinas atau “roti gerilya.”

Setiap pagi, mereka bangun sebelum fajar dan mengemasi daging sapi goreng dan cancharina. Tapi 15 mantan gerilyawan itu tidak akan berperang. Sebaliknya, makanan itu hanya menjadi paket makan siang. Sebagai bekal mereka, saat bergabung dengan pemogokan nasional untuk memprotes reformasi pajak, tingkat pengangguran yang tinggi, dan kemiskinan yang meluas yang diperparah oleh pandemi.

Cancharinas yang dibuat oleh Semillas, bersama dengan lusinan menu makanan FARC lainnya, menjadi topik studi bagi sekelompok kecil peneliti Antropologi. Mereka percaya bahwa sejarah konflik internal Kolombia harus dieksplorasi tidak hanya dalam hal kekerasan. Menurut antropolog Tomás Vergara dari Universitas Javeriana, penelitian itu ditujukan secara jelas untuk mengeksplorasi dan mendokumentasikan kehidupan sehari-hari mantan pemberontak.

Para peneliti ingin memahami bagaimana organisasi ilegal memberi makan ribuan orang yang tinggal di hutan, gunung, dan lembah Kolombia. Percakapan, wawancara, dan lokakarya memasak antara peneliti dan mantan gerilyawan telah menggali sistem pangan dalam skala yang tak terbayangkan.

“Ini adalah alam semesta,” kata antropolog makanan Ramiro Delgado Salazar dari University of Antioquia. “Mereka menabur, mereka menanam, mereka mengumpulkan, mencuri, mengambil, memberi, mereka memiliki segala macam transaksi makanan, kesemuanya dijalin untuk memberi makan sejumlah besar pemberontak gerilya.”

FARC didirikan pada 1960-an di Kolombia Tengah oleh para petani yang mengangkat senjata melawan pemerintah, menuntut tanah dan lapangan kerja. Lebih dari 50 tahun, kelompok gerilya yang berkembang di Kolombia—sebagian dibiayai dengan uang obat bius— hingga beranggotakan 10.000 pemberontak.

Pada tahun 2016, FARC, yang saat itu merupakan kelompok gerilya tertua di benua itu, menandatangani perjanjian damai dengan pemerintah Kolombia. Kedua belah pihak sepakat mengakhiri perang saudara setengah abad yang menghancurkan kehidupan hampir 8 juta orang Kolombia, 16 persen dari populasi negara itu.

Dua tahun kemudian, ahli gizi Isabella Fuenmayor Cadena, dari Universitas Javeriana di Bogotá, melihat jaringan rumit sistem makanan FARC terbentuk di salah satu dinding kamarnya. Untuk tesis sarjananya, dia mewawancarai 10 mantan anggota FARC di komunitas Comunidad Noble y de Paz Marco Aurelio Buendía pada awal 2020. Usai wawancara, dia dengan tekun menulis. Kemudian konsep-konsep kunci ia tulis di selembar kertas kemudian ditempel di dinding. Perlahan, label tersebut mengungkapkan sistem kuliner yang rumit dengan tradisi, hierarki, dan standar kebersihan.

Dapur umum atau ranca para gerilyawan FARC. Di dapur ini terdapat hierarki dan manajemen untuk menghidupi 10.000-an pasukan FARC. FOTO: MARIO TAMA/GETTY IMAGES

Makanan Kunci Daya Tahan Perlawanan

Makanan adalah bagian sentral dari kehidupan FARC, jelas Semillas, 34 tahun, yang bergabung dengan kelompok itu secara sukarela ketika dia berusia 11 tahun. Setelah ayah dan kakeknya dibunuh karena aktivisme politik pro-serikat. Dia, ibunya, dan saudara-saudaranya harus terus-menerus pindah untuk menghindari ancaman pembunuhan.

Lalu, dia bertanya kepada anggota FARC di kota pedesaannya, apakah dirinya memungkinkan bisa bergabung. Mereka setuju. “FARC memberi saya tumpangan dan perlindungan. Itu menyelamatkan hidup saya,” katanya. Aturan organisasi melarangnya untuk aktif bertarung sampai dia berusia 15 tahun. Tapi dia mulai memasak seperti orang lain.

“Saya tidak akan pernah melupakan ranchada pertama saya [shift memasak],” katanya. Hari pertama itu, Semillas harus memasak segalanya mulai dari nasi putih hingga daging goreng dan colada, cairan kental yang dicampur dengan agua de panela, minuman tradisional.

Dia dipandu oleh seorang gerilyawan tua yang berpengalaman, yang mengajari gerilyawan baru tentang semua “rahasia kecil”, seperti cara membersihkan rancha, atau stasiun dapur artisanal, dan cara meremas dan menggoreng cancharinas. “Kami mewariskan ilmu dari satu generasi ke generasi berikutnya,” ujarnya.

Seorang ecónomo mengawasi operasi, dengan susah payah merencanakan menu mingguan, menyesuaikan makanan untuk memperhitungkan bahan-bahan yang tersedia dan intensitas konflik. Ia juga membuat menu individual untuk anggota yang sakit atau terluka. Seorang mantan ecónomo mengatakan kepada Fuenmayor Cadena bahwa dapur umum berisi 36 bahan penting seperti tepung, susu bubuk, gula, panela, garam, kopi, dan minyak.

Kadang-kadang, meskipun sebagian besar tinggal di hutan dan perkemahan hutan, mereka bahkan memiliki akses ke makanan olahan dan alkohol.

“Sebagai organisasi yang sebagian besar terdiri dari petani, mereka mengetahui tanah lebih baik daripada orang lain,” kata Fuenmayor Cadena. Singkong, padi, pisang raja, dan jagung adalah tanaman pokok. Di depan Semilla, gerilyawan sering mengumpulkan buah-buahan dari hutan hujan. Mereka yang bertempur di dekat pegunungan Andes membudidayakan kentang dan sayuran tahan dingin lainnya.

Selama dekade pertama konflik, sel-sel gerilya yang jauh bahkan bertukar sayuran dan buah-buahan yang tumbuh di wilayah operasi mereka, dan menguburnya agar tetap segar. FARC mengelola ternak dan memiliki peternakan babi dan ayam di dekat desa-desa yang jauh, dikelola bersama dengan petani lokal — secara sukarela maupun ditekan.

Terinspirasi oleh Vietkong, pemberontak FARC awalnya membangun tungku pembakaran kayu bawah tanah, yang mengeluarkan asap dengan cara yang terkendali, menghindari pengawasan Angkatan Darat. “Kami akan membangunnya di samping pohon yang sangat besar, sehingga asap akan menyebar,” Semillas menjelaskan.

Persiapan klasik dan memakan waktu adalah hal biasa, seperti arroz empedrado (nasi dan kacang-kacangan), daging asap, dan arroz empastelado, campuran nasi, bawang, wortel, cabai, dan babi asap.

“Yang paling mengejutkan saya adalah rancha (dapur umum),” kata Fuenmayor Cadena. “[Selama masa tenang] mereka sangat besar sehingga bisa memberi makan 200 orang. Ini seperti memiliki restoran di tengah hutan.”

Chancarinas atau roti gerilya, makanan khas anggota FARC. Foto: EQUIPO PPU ALIMENTO, VIDA Y HÁBITAT – UNIVERSIDAD JAVERIANA

Tetapi makanan berubah ketika konflik meningkat dan teknologi pengawasan udara baru memberi keuntungan bagi Angkatan Darat pada awal 2000-an. Namun naluri gerilya selalu memberi solusi, “FARC beralih ke kompor gas portabel dan menciptakan posisi baru,” kata Semillas. Posisi baru itu disebut sebagai hornillero, yang secara eksklusif bertugas mengendalikan asap. Makanan menjadi kurang rumit, dengan hidangan utama berupa semur dan sup.

Cancharinas — yang bertahan hingga lima hari tanpa kehilangan tekstur atau rasanya, dan campuran energik seperti minicui (susu bubuk, air, gula, kerupuk) dan majule (pisang raja manis yang dihancurkan dicampur dengan gula dan susu) — mendominasi.

Untuk melamahkan para gerilyawan, pasukan pemerintah Kolombia juga membakar tanaman FARC, membunuh ternak mereka, dan membatasi sirkulasi makanan di desa-desa yang jauh. Sehingga para gerilyawan terpaksa memakan paca dataran rendah, monyet, tapir, dan hewan liar lainnya. (Meskipun undang-undang lingkungan FARC melarang perburuan satwa liar kecuali jika benar-benar diperlukan).

Dalam imajinasi masyarakat Kolombia, makanan “aneh” itu, dan ternak atau ayam curian, menjadi makanan pokok gerilya. Informasi itu memperkuat citra anggota gerilya sebagai musuh, sosok yang hampir seperti biadab yang perlu dihilangkan.

“Negara ini telah memastikan, melalui media, bahwa kami hanya menerima informasi ini [tentang FARC sebagai teroris],” kata Fuenmayor Cadena. “Suap untuk peternak sapi, pencurian sapi dan babi.” Tapi dia percaya bahwa, saat 7.000 mantan anggota gerilya kembali ke masyarakat Kolombia, makanan bisa menjadi cara untuk memanusiakan mereka.

Menu Gerilya di Tengah Masyarakat

Ketika mantan pemberontak bergabung kembali di tengah-tengah warga, jalur makanan FARC juga turut bermutasi. Ada ketegangan, jelas Paula Natalia Caicedo Ortiz, penasihat tesis Fuenmayor Cadena. Keteganga budaya itu disebabkan status mereka, antara kewarganegaraan Kolombia yang mereka peroleh kembali dan “kewarganegaraan FARC” yang mendefinisikan sebagian besar hidup mereka.

Misalnya, ketika mantan anggota gerilya pertama kali tiba di daerah Comunidad Noble y de Paz Marco Aurelio Buendía, tempat tinggal Semillas, mereka terus memasak bersama di rancha yang dibangun pemerintah untuk mereka. Tapi setelah pemerintah membangun rumah untuk setiap mantan anggota FARC dan keluarga mereka, semua orang mulai memasak di rumah. Umumnya, tugas dapur dipikul oleh perempuan, tidak seperti waktu mereka bergerilya, ketika laki-laki dan perempuan memasak secara setara.

Perubahan mendadak ini perlu proses secara emosional dan psikologis, jelas pekerja sosial Marta Inés Valderrama Barrera, yang memimpin tim multidisiplin di Universitas Antioquia yang telah bekerja sama dalam penelitian dengan mantan gerilyawan FARC. Dukungan pemerintah berfokus pada aspek-aspek seperti tunjangan hidup dan pembiayaan usaha kecil. “Tetapi transisi perlu didekati dengan lebih halus dan mendalam,” kata Valderrama Barrera.

Memahami jalur makanan FARC dapat membantu transisi mantan gerilyawan ke kehidupan sipil. Bercakap-cakap tentang makanan, kata Valderrama Valdez, memungkinkan mereka untuk “memulihkan ingatan itu, bukan untuk tetap bernostalgia dengan kehidupan dalam pelukan, tetapi sebagai kemungkinan dan alat untuk penyatuan kembali.”

Di Santa Lucía, sebuah desa kecil di Antioquia, mantan anggota gerilya berencana untuk menjual buku masak berisi 36 resep FARC yang mereka gali dari ingatan mereka selama penelitian Valderrama Barrera. Di Chocó, mantan wanita gerilya mendirikan restoran La Rancha de Mi Pueblo (My People’s Rancha), yang menyajikan makanan dengan bahan-bahan lokal dan beberapa hidangan tradisional FARC.

Mantan anggota FARC telah bergabung kembali dengan masyarakat, mereka membangun perkebunan untuk memenuhi makanan sebagaimana menu tradisional mereka selama 50 tahun bergerilya. Foto: RICARDO SEMILLAS

Di Comunidad Noble y de Paz Marco Aurelio Buendía, Semillas dan rekan-rekannya mencoba menumbuhkan kebun komunitas untuk membawa kembali satu set sayuran yang lebih beragam. Mereka berkebun karena bahan makanan yang dikirim oleh pemerintah Kolombia kepada mereka, kurang bervariasi dibanding bahan makanan mereka sebelumnya.

Komunitas tersebut juga menciptakan “rancha tradisional demonstratif” untuk proyek ekowisata dan mengumpulkan dukungan untuk “Festival Cancharina” tahunan untuk memamerkan masakan FARC. “Kami ingin menunjukkan bahwa orang-orang dari FARC tidak seperti yang dikatakan media tentang kami,” kata Semillas. “Kami juga punya hati; kita juga punya perasaan dan cerita, kita jatuh cinta, kita cinta. Kami seperti masyarakat di hutan.” Atlas Obscura

Leave a Reply

Your email address will not be published.