Jakarta (10/2). Empat pilar kebangsaan berupa Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika akan menentukan keberadaan bangsa Indonesia 100 tahun ke depan. Bila milenial hari ini tak mengenal empat pilar, Indonesia tak akan menikmati bonus demografi ataupun Indonesia Emas 2040 sebagaimana yang dicita-citakan pemerintah hari ini.

Hal itu diungkapkan oleh politisi Golkar Singgih Januratmoko, saat sosialisasi empat pilar di Klaten pada Selasa (9/2). Menurutnya, pengetahuan milenial mengenai empat pilar, terutama Pancasila sangat minim menciptakan ancaman bangsa Indonesia pada masa depan mengalami krisis identitas.

“Empat pilar itu merupakan jati diri bangsa. Bangsa yang besar selalu dimulai dengan mengenal jati dirinya. Mereka selalu terus menerus menguatkan nation building itu agar menjadi bangsa yang besar di berbagai bidang,” pungkas Singgih yang juga anggota Komisi VI DPR RI.

Pancasila sebagai cermin kebhinekaan sekaligus intisari dari nilai-nilai moral seluruh suku di Nusantara, merupakan jati diri bangsa yang harus dijaga, “Dalam sejarah perjalanan bangsa, Pancasila pernah dijadikan alat kekuasaan dan sifatnya politis, itu juga tidak dibenar. Tapi saat ini ancaman lainnya, adalah milenial kurang mengenal Pancasila, yang dapat menciptakan krisis jati diri dan moral bangsa,” imbuh Singgih.

Ia mengingatkan, globalisasi dalam bentuk budaya dan pertukaran informasi memiliki nilai positif, namun ancaman lainnya yang tak bisa dipungkiri adalah lunturnya jati diri bangsa, “Milenial sebagian masih tak mudah membedakan modernisasi dengan westernisasi,” ujarnya. Akhirnya, nilai-nilai kebarat-baratan yang tak cocok dengan etika dan norma bangsa diadopsi, salah satunya mementingkan diri sendiri, menjauhi semangat gotong-royong yang jadi inti Pancasila.

“Pancasila merupakan ideologi dan dasar negara, kedudukannya berada di atas tiga pilar yang lain. Empat pilar tersebut merupakan prasyarat minimal agar bangsa ini tetap berdiri kukuh dan meraih kemajuan berlandaskan karakter kepribadiannya. Bayangkan bila milenial tak mengenal jati dirinya sebagai sebuah bangsa,” paparnya. Indonesia akan kembali terjajah secara ekonomi dan sulit menjadi bangsa yang mandiri dalam segala hal. Ini jauh dari cita-cita para Bapak Pendiri Bangsa.

Menurut Singgih, kemajuan bangsa Indonesia pada 2045 saat Indonesia menikmati bonus demografi, tak akan tercapai bila saat ini milenial tak memiliki kepribadian Pancasila, “Padahal tujuan pembangunan nasional adalah membangun jasmani dan rohani untuk meningkatkan kesejahteraan dan keadilan sosial,” imbuhnya.

Singgih mengingatkan, agar pendidikan soal karakter bangsa ditingkatkan sejak dini, “Ia mencontohkan Amerika Serikat yang liberal menanamkan kebhinekaan sejak dini. Bahkan film-film Hollywood selalu menampakkan bendera Amerika Serikat sekian detik, untuk menumbuhkan rasa cinta kepada bangsa,” imbuhnya.

Doktrinasi empat pilar kebangsaan tak harus di ruang-ruang kelas, namun membuat analogi dan mengkampanyekan melalui film dan pertunjukan, lebih mudah diterima oleh kalangan milenial. Bila milenial mengerti dan menjiwai empat pilar, saat mereka menjadi para pemimpin bangsa, arah pembangunan nasional juga kian jelas.

“Para orang tua adalah panutan dan berkewajiban mengedukasi generasi muda, bila para orang tua tak mengajarkan nilai-nilai luhur, maka generasi muda akan kehilangan arah saat mereka mengambil alih nakhoda bangsa,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.