Jakarta, (17/06). Ammonia (NH3) mencuat sebagai salah satu alternatif energy storage bersanding dengan tenaga surya dan batubara dalam skala besar. Karena pemenuhan energi pembangkit listrik di masa mendatang berasal dari sumber energi baru dan terbarukan.

Pusat Penelitian Energi Baru dan Terbarukan Seri 2, Institut Teknologi Bandung (PP-EBT ITB) mengkaji topik tersebut dalam webinar bertema “Penyimpanan Energi pada NH3 sebagai salah satu solusi intermittency PLTS dan PLTB”.

Webinar ini adalah hasil kolaborasi dengan program pascasarjana fakultas teknik mesin ITB (FTMD ITB) mengundang civitas akademik, masyarakat umum, dan pakar seperti Assoc.Prof.Dr.Eng.Muhammad Aziz yang merupakan Ketua Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I4) Universitas Tokyo, Roy Daroyni, ST yang merupakan Kellogg Brown and Root, Director of Sales SouthEast Asia, Technology, dan Dr. Zainal Arifin merupakan Executive Vice President Engineering di PLN.

Kepala PP-EBT ITB Dr. Ir. Yuli Setyo Indartono dalam sambutannya menyampaikan bahwa, Intermittency cukup berdampak pada transmisi listrik oleh karena itu, banyak peneliti mencoba mencari solusi untuk mengatasi hal tersebut.

“Salah satu solusinya dengan menggunakan energy storage supaya dapat tersimpan menjadi energi baru yang nantinya berguna pada sistem pembangkit dengan kontrol manusia,” katanya.

Selaku Dekan FTMD ITB, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara juga memberi sambutan bahwa Indonesia berencana akan memperluas penggunaan energi baru terbarukan. “Dalam 10 tahun ke depan Indonesia akan ada pembangunan masif energi baru terbarukan menggantikan PLTD dan PLTU Batubara yang lambat laun tak terpakai,” ujar Tatacipta.

dok. Webinar Energi Baru Terbarukan via zoom

Cara Kerja Pemanfaatan Amonia

Penggunaan energi ini dalam dua hal, ammonia decomposition dan ammonia direct utilization. Namun, yang akan datang pemanfaatannya juga sebagai ammonia power plant, fuel cell vehicle, and transportation.

“Ada 2 cara amonia ketika masuk ke dalam turbin yakni dengan pembakaran dan memodifikasi ruang bakarnya atau reforming menjadi hidrogen lalu masuk ke turbin gasnya,” kata Priyono.

Ada tiga kasus studi amonia yakni grey ammonia, blue ammonia, green ammonia yang mana menurut Roy Daryoni, amonia hijau memiliki tantangan secara teknologi (terutama pada bagian elektrolisis air) masih perlu berkembang pesat untuk mencapai yang terbaik secara ekonomi.

Green ammonia sangat penting di Indonesia karena di beberapa perusahaan, belum beroperasi sempurna sehingga harapannya dapat teraplikasi dengan baik oleh perusahaan Indonesia.

Hingga kini, pemanfaatan energy storage berbasis hidrogen tipe NH3 masih menghadapi 3 tantangan utama; finansial (biayanya relatif tinggi, kompetisi harga dengan teknologi storage lain), teknis (ketersediaan teknologi yang mature baik proses maupun pembangkit, kompetisi dengan teknologi storage lain), proyek (lokasi dan kapasitas proyek, kualitas SDM dan EPC pelaksana).

“Mengantisipasi kelebihan pasokan PLTU dan intermittency, perlu teknologi storage yang salah satunya adalah hidrogen dari NH3,” ucap Zainal.(indah)

Leave a Reply

Your email address will not be published.